PEMUDA MASJID MISTERIUS
panas terik semakin membuatku tak betah dengan hawa-hawa kendaraan, asap, suara bising knalpot, dan lain-lain. Membuat aku berniat untuk singgah sejenak. Kebetulan adzan dzuhur berkumandang dari sebuah masjid diseberang jalan sana. Lalu kulihat banyak gerombolan anak-anak menuju masjid itu dengan menggunakan sarung, baju koko, dan perlengkapan shalat lainnya. Ouch..baru ku sadari ini hari jum’at, pantas... banyak para laki-laki ke masjid.
Aku tak begitu peduli walau banyak laki-laki yang berada dimasjid itu, ketika aku singgah juga paling-paling aku hanya berdiam diri di teras masjid. Kalau bukan karena dalam perjalanan aku tak akan singgah di masjid ini. Yaa anggap saja aku ini musafir perempuan atau nama lainnya musafiroh. Eh..bener gak ya?? Ada gak ya bahasa arab musafiroh? Aduuh aku memang sulit mencerna pelajaran bahasa arab diwaktu aku MTs saja nilai bahasa arabku selalu c. Beda dengan pelajaran yang sangat kusukai waktu MTs yaitu bahasa inggris, makanya aku ambil jurusan sastra inggris sekarang.
Mungkin peristirahatanku tidak sampai dua jam, aku akan sholat dzuhur setelah orang-orang didalam masjid selesai sholat jum’at. Beneran kamu mau sholat Mil? Aku bertanya sendiri pada diriku. Ah.. biasanya kan aku malas sholat. Emmm..apa aku lanjutkan aja perjalananku? Tapi panas banget nih, apa salahnya sih istirahat di masjid skalian sholat? Aduh... antara setan yang menggodaku dan malaikat yang menyuruhku untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslimah. Pilih yang mana?.
Kupandang belakangku yaitu bagian dalam masjid ternyata yang sholat jum’at hampir separuh dari bagian dalam masjid. Sudah begitu safnya tidak rapat lagi, karena hanya diisi oleh orang-orang tua dan sebagian anak-anak kecil yang hanya bermain-main didalam sholatnya. Makanya safnya bolong-bolong, dan parahnya salah satu anak ada yang sujud sambil menggoyangkan pinggulnya ke arah pinggul teman sebelahnya, kontras temannya membalas perlakuan itu dengan kembali menggoyang kan pinggul kearah anak itu. Tapi setelah itu mereka malah menertawai kelakuan mereka sendiri. Dasar anak kecil, sholat main-main, mereka berdua pun saling memandang ketika tahu sedang ku amati dan kemudian mereka tidak melanjutkan aksi mereka. Wah.. yang ini lagi segerombolan anak-anak yang gak jelas lagi, habis ruku’ malah pergi ke belakang saf untuk main kelereng, ck..ck..ck.. kecilnya begitu gimana besarnya?. Yaaah... sama seperti kamu Mil, sudah besar begini masih saja malas sholat, hatiku sendiri berbicara.
Khotbah yang berkumandang dari toak masjid pun berlalu, aku masih tak ingin beranjak karena panasnya matahari yang menyengat semakin membakar kulitku yang tidak putih ini. Perjalanan dari kampus menuju kos memang lama dan melelahkan.
Akhirnya satu demi satu dan gerombol demi gerombolan laki-laki maupun anak-anak pulang kerumah masing-masing meninggalkan masjid, tapi aku tetap tak ingin melakukan sesuatu. Dinginnya lantai yang menembus celana jeansku membuatku semakin betah dan angin yang melambai-lambaikan rambut panjangku semakin melenakan nikmatnya suasana ditengah-tengah panasnya siang, tetapi dalam kenikmatan dinginnya lantai ini, tiba-tiba di ujung saf di dalam masjid terlihat seorang pemuda yang sepertinya baru selesai berdzikir dan melakukan sujud setelahnya, kemudian beranjak dari saf nya, masjid sudah sepi mungkin dia laki-laki terakhir yang akan meninggalkan masjid, kutatapi terus pemuda itu, tanpa ku sadari wajahnya begitu bercahaya dan jelas sangat tampan putih bersinar seperti di iklan-iklan pencuci muka dengan baju koko putih yang bersinar pula, beda kaya aku yang hitam ini, tapi manis ko, hehe..tapi... ups!! Aku tertangkap basah olehnya karena menatap yang terlalu lama. Aku kembali menghadap ke depan dan dengan sangat malu dan muka yang memerah, aku takut dia memarahiku. Eh tidak juga sih, lebih tepatnya malu kalau di datangin karena ketahuan curi-curi pandang.
Detak jantungku jadi tak beraturan menyambut jika mungkin ada tepukan dibahuku darinya atau panggilannya kepadaku untuk memarahi atas kelancanganku menatapnya. Tapi.. setelah beberapa menit tak kurasa apapun. Aku memberanikan diri lagi untuk menghadap ke belaakang. Loh... mana cowok tadi? Main sembunyi-sembunyian aja deh tuh cowok! Karena penasaran aku pun mencari kedalam masjid. Aku memandang ke sekitar dan pojok-pojok pintu bahkan aku tengok sampai ke mimbar dan samping lemari Al-qur’an, kemudian aku keluar mendatangi tempat wudhu dan kamar mandi yang terbuka lebar tak ada orang. Aaah... Milda... jangan gila donk..masa dia main sembunyi gitu? Ngapain juga kamu cari sampai ke mimbar-mimbar? Hah... konyol banget sih aku hari ini? Aku segera mengambil air wudhu dan sholat seorang diri di dalam masjid.
Keesokan harinya, sepulang dari kampus lagi aku pun kembali teringat pada masjid yang kusinggahi. Dan ketika mendekati masjid itu di perjalananku pulang dengan motor mio ku ini ku lihat pemuda itu lagi di teras masjid, huh...kenapa pula jalanan macet? Nggak biasanya... emmm kebetulan ada cowok itu, aku jadi berniat sholat dzuhur di masjid lagi, lagi pula kalau sudah sampai kos pasti aku lupa sholat. Aku pun memarkirkan mio ku di halaman masjid, dan segera mengambil air wudhu, ku lihat pemuda itu sudah takbiratul ikhram. Aku segera mengambil mukena di belakang tempat saf wanita. Dan melaksanakan sholat.
Assalamualaikum warahmatullah... assalamualaikum warahmatullah.... aduuh.. sholatku nggak khusyuk... soalnya mataku sesekali menatap cowok itu. Shalatnya lama banget sih tuh cowok? Hmmmm.....bener-bener alim yaah... setelah sekian lama aku menggerutu, akhirnya..... Assalamualaikum warahmatullah..assalamualaikum warahmatullah.. huuf akhirnya selesai juga dia shalat. Tapi...yaah dzikirnya pasti lebih lama, trus kapan aku bisa ngobrol sama tuh cowok? Tiba-tiba..kriing....kriiing.... suara ponselku berdering. Lalu cepat-cepat kuangkat takut mengganggu konsentrasi pemuda yang lagi berdzikir itu. “Hallo... Mil, kapan kamu sampai ke kos? Mama sudah jauh-jauh datang dari kalimantan untuk jenguk kamu, masak kamu tinggal kuliah sampai jam setengah tiga sore? Tadi bilangnya selesai kuliah jam dua? Gimana sih kamu? Mama keburu ada meeting lagi nanti di Bandung...!!” suara mama menggema di seberang via teleponku. “Aduh ma.....aku baru aja selesai sholat nih, lagi pula tadi kejebak macet trus.....” tut......tut....tut..... hah... pasti mama main matikan telepon begitu aja, sebel deh!.
Aku pun bergegas meninggalkan masjid dan tak lagi ingat atas keberadaan pemuda itu. Karena takut dimarahi mama dan takut gara-gara menungguku bisnis beliau jadi kacau.
Kemarin, adalah hari ketiga kalinya dimana aku melaksanakan sholat dzuhur dimasjid dengan sosok pemuda misterius itu, kemarin juga aku berniat ingin menghampirinya, tetapi aku terlambat, karena saat aku sedang mengembalikan mukena yang kukenakan ke dalam lemari otomatis dia lepas dari pengawasanku, dia segera pergi tiba-tiba dan sama seperti awal pertemuan, aku mencari-cari hingga kesal tetapi tidak juga kutemukan.
Kalau ini yang ke empat kalinya rasanya tidak mungkin, karena hari ini aku kedatangan bulan alias haid. Tiba di jalan Juanda kembali macet, hah..bete deh...namun tak disangka. Pemuda masjid yang selama ini sholat dimasjid itu sedang berjalan kaki ditrotoar tepat disampingku ketika aku terjebak macet, oh ia...beberapa meter dari sini memang letak masjid yang kemarin aku singgahi sholat. Aku pun segera memarkirkan mio ku di halaman masjid lagi. Pemuda itu sudah sampai didepan masjid dan berhenti sejenak dipagarnya, aku berniat menghampirinya. Ketika aku akan melangkahkan kaki ke teras masjid tak ku sangka, pemuda itu pun menegurku. Waah senangnya hatiku. “maaf mbak, mbak mau kemana?” ucapnya kepadaku sangat lembut. “emmm...emmmmm....”aku grogi, apa yang harus ku katakan? Ko jadi amnesia gini? “emm..mau sholat.. ia.. mau sholat” gugupku yang sangat terlihat olehnya.
“mbak, orang berhalangan tidak bisa masuk ke masjid, apalagi sholat. Jadi mbak kalau sudah bersih bisa kembali lagi kesini, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan...” tegasnya dengan lembut itu lalu ia pergi lagi meninggalkan masjid. Aku hanya bisa melongo dan mematung mendengarkan tutur katanya walaupun dia sudah melangkah keluar masjid. Aku sungguh terbuai dengan kelembutannya. Oh ia.. tapi.. darimana dia tau kalau aku sedang haid? Ini yang harus dipertanyakan. Yaa...memang dia paranormal bisa tau kalau aku sedang haid? Aku pun berbalik ingin menghampiri dan bertanya tahunya dia tentang haidku. Segera ku putar badan dan.... “aaaaaaaaaaaaaaaaaakkkhhhhh............dan teriakku histeris, aku tak berani menatap ke jalan raya karena pemuda tadi sedang menyeberang tepat didepan truk yang sedang melaju kencang dari arah kanan yang sedikit menikung. Tiba-tiba air mataku menetes tak kuasa jika aku harus melihat kejadian tragis itu. Aku tetap menunduk membelakangi jalan dimana pemuda itu ditabrak oleh sopir truk yang tidak bertanggung jawab, namun....tidak ada tanda-tanda keramaian dibelakangku, aku tidak mendengar suara sirine bahkan truk yang mengerem seperti jika menabrak sesuatu, apa truk itu tabrak lari? Lalu bagaimana nasib pemuda itu? Dia itu pemuda yang baik, apa tidak ada orang yang ramai-ramai membantu membawanya kerumah sakit? Aku pun memberanikan diri untuk menengokkan kepalaku ke arah jalan dengan terurai air mata.
Loooh......jalannya kok sepi? Tidak ada bekas tabrakan sama sekali di jalan dimana tempat pemuda tadi ditabrak. Lalu berbagai kendaraan melaju dengan santainya, tak ada tanda kecelakaan sedikit pun dijalan raya, aku memajukan langkahku mendekati trotoar untuk memastikan peristiwa na’as yang telah ada dibenakku tadi. Pejalan kaki yang lain pun nampak menikmati perjalanannya, aku tak mengerti apa yang baru saja kualami, kemana pemuda tadi? “pak permisi...”aku pun menghampiri penjual bensin di dekat masjid untuk menanyakan hal yang baru saja kualami. “iya mbak, ada apa?” penjual bensin itu kembali bertanya. “emm...tadi ada pemuda yang ditabrak truk nggak pak di jalan ini?” tanyaku penasaran. “dari tadi saya disini nggak ada kecelakaan kok mbak” jawabnya singkat. Aku masih belum puas dengan pernyataan penjual bensin itu lalu aku bertanya lagi.”kalau pemuda yang sering sholat di masjid ini, bapak sering liat nggak? Tadi bapak juga liat nggak pemuda itu menyeberang tepat didepannya ada truk yang melaju kencang?” serbuku dengan pertanyaan. “aduh mbak...saya memang dekat masjid jualannya, tapi saya nggak pernah ngamatin orang yang sholat-sholat dimasjid, maaf ya mbak, tadi juga nggak ada kecelakaan kok mbak”.
Aku pun kembali ke motorku dan menstarternya, aku masih memandangi masjid itu, bangunannya memang cukup tua, tapi di dalamnya aneh, sepertinya tidak pernah di kunci seperti masjid lainnya. Tapi itu tidak terlalu aneh setelah aku sadari bahwa selama tiga kali berturut-turut aku sholat bersama pemuda itu, tempat orang dimana menaruh sandal........ iya, didepan teras tempat dimana sandal ditaruh, selama ada pemuda itu tidak ada sepasang sandal pun yang terletak disitu kecuali sandal sepatuku sendiri.
Diperjalanan pulang aku memutar otak untuk memikirkan pemuda itu, yaah.. pemuda itu yang membawaku ke dalam kewajiban sholatku, hingga aku jadi seperti berhalusinasi, tapi aku yakin ini adalah peringatan untukku, berapa tahun sudah aku tidak sholat? Peristiwa spiritual tadi harus aku jadikan pelajaran, mungkin pemuda tampan nan bercahaya itu adalah perantara yang diberikan kepada Allah untuk memperingatkanku agar aku kembali melaksanakan sholat. Baiklah aku akan merubah diriku mulai saat ini. Tapi tidak untuk pergi ke masjid itu lagi, aku merasa nyaliku ciut. Ya Allah... ampuni dosaku...
~SEKIAN~






0 komentar:
Posting Komentar